Sejarah adalah milik pemenang. Soeharto, yang dapat dibilang pemenang dalam pasca 1965, melakukan penyeragaman sejarah. Hanya ada satu pelaku jahat di negeri ini: PKI.
Upaya Era Orba untuk Mengucilkan/Mencegah bangkitnya PKI pun dilakukan dengan Memberlakukan TAP MPRS no XXV/1996 . Akan tetapi,pada era Gus dur TAP MPRS No XXV/1996 itu dicabut, Keputusan Gus dur Kala itu Memang mengundang Amarah Beberapa Pihak Karena Dapat Memicu Bangkitnya PKI
Dari TAP MPR itu, Masalah Komunis (dalam hal ini PKI) pemerintah kita ini malah ikut-Ikutan Mengucilkan, padahal itu bertentangan dgn Undang-undang Dasar yaitu Melindungi Semua dan itu hasil tujuh abad kita berpancasila. tugas mengucilkan PKI itu bukan tugas NEGARA !! seperti yang dikatakan gus dur "Apa artinya pemisahan agama dari negara, kalo negara ngurusin semua hal ?", padahal yg menentang PKI hanya beberapa gelintiran org saja.
Selain Itu, melestarikan stereotip bahwa komunisme ateis dan niscaya berpolitik dengan "tujuan menghalalkan cara" adalah tindakan menyederhanakan. Dalam sejarah, kita mengenal Haji Misbach dari Surakarta dan Datuk Batuah dari Padang yang Islam sekaligus komunis. Pelajarilah marxisme,maka akan ketahuan bahwa concern utamanya bukanlah soal agama, melainkan soal pembelaan terhadap yang tertindas dalam kapitalisme. Soal "tujuan menghalalkan cara" adalah machiavelisme belaka yang tidak khas tabiat komunis, tapi juga bisa dilakukan oleh siapa pun !.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar