Minggu, 04 Agustus 2019

Menaikkan Harga Rokok ?

Beberapa bulan terakhir kalo tidak salah pada bulan Maret ada isu soal menaikkan harga cukai rokok untuk mengurangi jumlah perokok. well, saya juga sering mendengar teman-teman saya menggunakan logika ekonomi seperti itu. Apakah salah ? tidak juga.

Logika ekonomi seperti tadi tidak ada salahnya juga, kalo mau mengurangi permintaan terhadap rokok, maka naikkan harga setinggi-tingginya.  Dalam konsep ekonomi mikro saran ini mengikuti benar hukum permintaan : jika harga naik, jumlah barang yang diminta/dibeli akan berkurang, ceteres paribus. Tapi, sayangnya hukum permintaan ini hanya berlaku untuk barang normal/biasa dan tidak berlaku untuk barang bukan normal, seperti rokok. Rokok bukan barang normal, karena kebiasaan merokok menyebabkan ketagihan (addict). Bagi orang yang ketagihan merokok, harga rokok tidak lagi menjadi faktor penentu jumlah rokok yang dihisap setiap harinya. Menaikkan harga rokok (lewat cukai yang lebih tinggi) tidak akan mempengruhi perokok yang addict, namun bagi perokok baru atau yang belum addict masih mungkin berdampak: mengurangi jumlah rokok yang dihisap setiap harinya atau berganti rokok yang lebih murah. Dari sisi lain, rokok ilegal justru akan mendapat tambahan pasar baru. Padahal pada rokok ilegal, kandungan tar dan nikotin lepas dari pengawasamn pemerintah.
Dampak kenaikkan harga rokok pada perokok addict bervariasi terhadap pendapatan perokoknya. Untuk perokok addict dari keluarga kaya, kenaikkan harga rokok berdampak pada naiknya jumlah pengeluaran konsumsi rumah tangganya dan tidak mengubah pola konsumsi rumah tangganya secara signifikan. Untuk perokok addict yang berada dikelas ekonomi menegah-kebawah atau para mahasiswa misqueen, kenaikan harga rokok berdampak pada pola pengeluaran rumah tangganya/kebutuhannya. Kenaikkan harga rokok dikompensasi oleh penurunan pengeluaran untuk pendidikan, protein, dan susu.

Jadi, memang harus bijaksanan dalam membuat kebijakan mengurangi konsumsi rokok masyarakat dan jumlah perokok dengan menaikkan harga rokok. Menggunakan lebojakan harga akan memiliki opportunity cost masa depan generasi muda.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar