Kamis, 12 Januari 2017

Pancasila dalam era globalisasi


Globalisasi sudah melanda di seluruh dunia, salah satunya dengan adanya bantuan kemajuan teknologi informasi, teknologi komunikasi dan teknologi transportasi menjadikan dunia semakin sempit, globalisasi juga berisikan persaingan bebas dan keunggulan, bangsa yang tidak unggul akan tergilas oleeh bangsa-bangsa yang unggul. Beraneka ragam pengaruh perkembangan lingkungan strategis internasional dan nasional berdampak pada aspek-aspek kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara yaitu ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan, kependudukan,  Letak geograafis dan sumber kekayaan alam. Bangsa yang menutup diri dari perkembangan internasional pastilah ketinggalan dalam berbagai hal seperti, kemiskinan belum tertuntaskan, pengangguran bertambah, tenaga kerja bermasalah, mutu pendidikan dipertanyakan, lapangan pekerjaan menjadi terbatas, narkoba merajalela, penderita HIV/AIDS terus betambah, kenakalan remaja tak tebendung, kekerasan terjadi disana-sini,dan sebagainya.
Pancasila sebagai Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar Negaa Republik Indonesia yang kokoh tidak akan menutup diri dari perkembangan internasional. Membuka diri terhadap globalisasi bukan berarti kita melepaskan jati diri sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai luhur pancasila yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Serap nilai-nilai baru untuk memperkaya hasanah ilmu pengetahuan dan wawasan kita, tapi jangan sampai mengganti 100% nilai-nilai luhur pancasila (moral pancasila) yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur agama dengan nilai-nilai baru dari bangsa lain. Bangsa yang memiliki kepribadian kuat berjati diri dan kepribadian pancasila mampu mempertahakan jati dirinya. Jati diri dan kepribadian bangsa, kepribadian masyarakat dibangun dari jati diri dan keribadian keluarga, jati diri dan kepribadian keluarga dibangun dari jati diri dan kepribadian individu. Oleh karena itu mulailah membangun jati diri dan kepribadian dari diri sendiri, dan terus menenrus membiasakan membangun jati diri yang kuat dan kepribadian yang kuat. Dalam membangun jati diri dan kepribadian terpuji biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.
Dalam era globalisasi dan kondisi bangsa skarang ini ada suatu nilai perekat persatuan dan kesatuan demi utuhnya NKRI yaitu nilai jati diri bangsa yaitu nilai-nilai pancasila. Pancasila yang sudah terbukti kesaktiannya yang mampu mengatasi masalah-masalah bangsa dalam situasi penting dan genting yang tercatat dalam sejarah seperti pemberontakan-pemberontakan dari berbagai elemen bangsa yang pada akhirnya dengan semangat nasionalisme yang melahirkan para pejuang (patriotisme) yang berpegang teguh pada nilai-nilai pancasila yang luhur semuanya dapat diatasi. Walauu negara kita didiami oleh berbagai etnis, agama, budaya , adat-istiadat, kerarifan lokal yang berbeda, namun perbedaan adalah suatu ke-bhinnekaan, ke-pluralistikan, kemajemukan tetap dalam satu yaitu bertumpah darah yang satu tanah air indonesia, berbangsa satu bangsa indonesia dan menjunjung tinggi bahasa persatuan yaitu bahasa indonesia. Inilah sumpah pemuda yan diprokamirkan oleh pemuda-pemuda pejuang bangsa, nasionalisme, dan patriotism pada tangga 28 oktober 1928.
Dalam mengelola kemajemukkan masyarakat, indonesia juga memiliki pengalaman sejarah yang cukup panjang bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Negara barat relatif masih baru mewacanakan hal ini, sebelum kenal  apa yang disebut dengan Multikulturalisme di barat, jauh sebelum itu atau berabad-abad yang lalu bangsa indonesia sudah memiliki falsafah “Bhinneka tunggal ika”  yang ditulis oleh mpu tantular pada abad ke 14 di masa kerajaan majapahit. Dalam kitab tersebut empu tantular menulis “Rwaneka dhatu winuwus buddha wisma,bhinneka rakwa ring apan kena parwanosen, mangka ng jinatwa kalawan swatatwa tunggal, bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”.  dan  founding father (Pendiri bangsa) indonesia yang sebagian besar beragama islam cukup toleran untuk menerima warisan mpu tantular yang seorang sastrawan buddha. Sikap toleran ini merupakan watak dasar suku-suku bangsa di indonesia yang telah mengenal beragam agama, berlapis-lapis kepercayaan dan tradisi, jauh sebelum islam datang ke nusantara dan perbedaan tersebut dijadikan para leluhir sebagai modal untuk membangun bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang besar. Sejarah juga telah membuktikan bahwa semakin banyak suatu bangsa menerima warisan kemajemukkan, maka semakin toleran bagsa tersebut terhadap kehadiran “yang lain”.
 Globalisasi tidak mungkin dihindari dan mustahil bangsa indonesia dapat lari dari pengaruh globalisasi, Globalisasi tidak perlu ditakutkan , globalisasi tidak perlu disalahkan, sikapi globalisasi dengan positive thinking (berpikir positif) , tidak menangis dan tidak menyerah pada globalisasi, tegar dan segar, berbuat dan  terus berbuat, kreatif, inovatif dan produktif untuk negeri ini yang pernah disegani oleh bangsa-bangsa dunia supaya mampu bersaing dan bersanding dengan bangsa bangsa lain. Bangsa indonesia memiliki jati diri yang kuat yaitu pancasila sakti yang mengandung nilai-nilai moral leluhur dan tetap sakti tak terkalahkan oleh ideologi lain. Globalisasi yang bercirikan persaingan/kompetitif dan keunggulan dengan memiliki keunggulan manusia menjadi lebih maju. Informasi menjadi bermakna kalau dikemas oleh lembaga atau orang-orang berkualitas dan lembaga itu berguna bagi umat atau masyarakat luas kalau dikerumuni oleh informasi yang berkualitas. Televisi sebagai media komunikasi informasi hendaknya mampu menyampaikan informasi yang benar, misalnya
1.      Informasi yang disampaikan sesuai dengan kenyataan/realita
2.      Informasi yang disampaikan sesuai dengan kaedah ajaran yang benar
3.      Informasi yang disampaikan mengandung dam mengajarkan nilai-nilai luhur untuk kehidupan yang lebih bermutu
Bukan hanya Tugas pemuka agama atau organisasi-organisasi tertentu, tapi itu juga tugas kita semua untuk turun tangan  mempersiapkan informasi yang berkualitas pada masa yang akan datang apabila ingin menjadi bangsa yang maju yang berlandaskan pada moral bangsa yaitu pancasila. Bagaima cara mengemas informasi, inilah masalah yang sedang dihadapi dalam era globalisasi sekarang ini.
            Media massa harus bisa menjernihkan pandangan hidup (ideologi) bangsa indonesia, punya tanggung jawab terhadap perkembangan moral generasi yang akan datang. Generasi sekarang baru merasa puas kalau memberi pancing kepada generasi yang akan datang, bukan memberi ikannya atau generasi sekarang baru bisa menyatakan puas kalau menanam pohon yang berbuah dari pada memakan buah dari pohon peninggalan nenek moyangnya. Persoalannya sekarang bagaimana menanam pohon-pohon itu, di mana lahannya, dari mana bibit unggulnya, dan dari mana biayanya. Dalam di bawah bendera revolusi  pak soekarno berpesan bahwa “ walaupun indonesia sudah merdeka tetap harus waspada, waspada, dan terus waspada terutama dala era global, era persaingan bebas yang dapat memindahkan/mentransfer nilai-nilai nasionalism, patriotism, kecintaan terhadap tanah air dan kecintaan terhadap bangsa ke dalam arus globalisasi.
            Perbedaan manusia dan makhluk-makhluk allah lainnya seperti malaikat, iblis dan syaitan adalah terletak pada kekhalifahan manusia. Khilafah di bumi adalah anugerah tertinggi Allah Swt kepada manusia. Anugerah sebagai khalifah ini pula yang menimbulkan kecemburuan syaitan kepada manusia, dimana Allah memerintahkan syaitan untuk tunduk kepada manusia. Syaitan membangkang perintah Allah Swt, oleh karena itu dalam menjalankan kekhalifahannya manusia di mana saja, kapan saja dan siapa saja untuk berbuat kebajikan selalu mendapatkan perlawanan dari syaitan. Reaita perlawanan itu tampak pada perilaku manusia yang jelek-jelek dan yang tidak berbudi, lebih-lebih lagi dalam era globalisasi yang dahsyat yang penuh dengan informasi-informasi yang menggoda yang menjanjikan kesenangan terutama oleh syaitan. Perilaku yang jelek-jelek, jahat, yang membuat orang lain susah, tidak berbudi adalah perilaku dan ucapan yang bertentangan dengan nilai-nilai moral pancasila.
            Seyogyanya disadari bahwa informasi merupakan sesuatu yang mahal. Barang siapa yang menguasai informasi maka ia menguasai dunia, oleh karena itu manusia sejatinya mengemas informasi supaya berkualitas. Lebih-lebih jangan sampai informasi itu menjerumuskan umat manusia untuk menjadi pengikut syaitan. Apapun derajat manusia, kluster manusia, apapun pendidikan manusia, kaya atau miskin tidak luput dari godaan syaitan supaya menjadi tim suksesnya syaitan dan pasukannya memasuki neraka, kecuali orang-orang yang mendapat perlindungan dari Allah Swt. Salah satu di antaranya adalah orang-orang yang memiliki kepribadian yang dijiwai oleh nilai-nilai luhur agama yang merupakan jiwa (roh) dari nilai-nilai pancasila. Sekarang ini, apalagi dalam era globalisasi yang sudah memperlihatkan tanda-tanda pengikisan ahlak mulia, moral, karakter yang sangat penting dibangun adalah kepribadian bangsa yang memiliki akhlak mulia, bermoral, dan berkarakter. Apalagi tidak dibangun, maka bangsa ini akan menerus berada dalam kondisi sekarang ini. Oleh kareena itu, setiap insan indonesia yang menyadari kondisi bangsa ini, hendaklah berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi bangsa dan negara, bagi keselamatan umat manusia pada umumnya, tidak ada istilah terlambat untuk mencintai bangsa dan negara ini, banyak cara untuk mencintai bangsa, banyak cara untuk berbakti kepada bangsa dan negara ini, lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. marilah, jangan hanya diam, jangan hanya berpangku tangan tp ayo turun tangan  bersama-sama kita benahi, kita berbuat untuk indonesia yang lebih baik lagi.
Camkanlah kata-kata mutiara ini :
“ jangan tanya apa yang diberikan oleh negara kepadamu, tetapi tanyalah apa yang dapat kamu berikan kepada negaramu” (John F. Kannedy).
“bahwa bangsa-bangsa yang maju dan jaya tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi, teknologi canggih ataupun kekayaan alamnya, tetapi yang utama dan terutama karena dorongan semangat dan karakternya, contohnya kita bisa lihat apa yang terjadi dengan bangsa jepang, china, dan korea. Bahkan kini vietnam , bangsa yang lebih miskin dan terpuruk dari indonesia itu sudah siap menjadi negara yang maju” – (H. Soemarsono soeadarsono, dalam jurnal negarawan, 2011:59).
            Globalisasi telah menciptakan sebuah perubahan besar dalam semua lapangan kehidupan baik kehidupan ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan, kependudukan, geografi, dan sumber kekayaan alam indonesia. Globalisasi yang bercirikan persaingan bebas dan keunggulan merubah pola pikir masyarakat terutama masyarakat indonesia. Bagaimana mensejahterakan rakyat melalui sumber kekayaan alam indonesia yang melimpah ruah jangan sampai terjadi ibarat kata pepatah “seperti ayam mati kelaparan di lumbung padi” atau “ ibarat itik mati kehausan berenang di air”. Tidak sepantasnya terjadi banyak rakyat miskin di tengah-tengah kekayaan alam negara yang berlimpah ruah. Rakyat miskin mengais sampah, menjadi kuli untuk sesuap nasi pagi dan sore semetara kemewahan, kesenangan, kekayaan yang dipamerkan disekeliling mereka. rakyat tersayat hatinya, pedih seperti teriris sembilu,  pasrah dengan kondisi apa adanya.
            Tidak ada kata terlambat untuk mengangkat nasib rakyat, kesejahteraan rakyat. Kita harus belajar dari negara-negara yang tidak mempunyai sumber kekayaan alam tapi rakyatnya sejahtera seperti korea, jepang, singapura yang maju dan sejahtera. Apa kuncinya ?
1.      Semangat kebangsaan (nasionalisme) yang melahirkan cinta tanah airdan bangsa yang mengutamakan kepentingan bangsa dan negara ukan kepentingan pribadi, golongan, kelompok dan partai.
2.      Leadership yang kuat untuk maju dan visinya untuk membangun kesejahteraan rakyat.
3.      Masyarakat mempunyai kemauan yang kuat  (optimisme) untuk maju dan sejahtera yang didorong oleh kepemimpinan yang pro rakyat.
4.       Sumber kekayaan alam yang berlimpah-limpah yang dimanfaatkan sepenuhnya untuk membangun kesejahteraan rakyat.
5.      Kemandirian, percaya kepada kemampuan bangsa sendiri yang didukung oleh sumber kekayaan alam dan jumlah penduduk yang besar dan berkualitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar