Globalisasi sudah
melanda di seluruh dunia, salah satunya dengan adanya bantuan kemajuan
teknologi informasi, teknologi komunikasi dan teknologi transportasi menjadikan
dunia semakin sempit, globalisasi juga berisikan persaingan bebas dan
keunggulan, bangsa yang tidak unggul akan tergilas oleeh bangsa-bangsa yang
unggul. Beraneka ragam pengaruh perkembangan lingkungan strategis internasional
dan nasional berdampak pada aspek-aspek kehidupan bermasyarakat,berbangsa dan bernegara
yaitu ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan, kependudukan, Letak geograafis dan sumber kekayaan alam. Bangsa
yang menutup diri dari perkembangan internasional pastilah ketinggalan dalam
berbagai hal seperti, kemiskinan belum tertuntaskan, pengangguran bertambah,
tenaga kerja bermasalah, mutu pendidikan dipertanyakan, lapangan pekerjaan
menjadi terbatas, narkoba merajalela, penderita HIV/AIDS terus betambah,
kenakalan remaja tak tebendung, kekerasan terjadi disana-sini,dan sebagainya.
Pancasila sebagai
Pandangan Hidup Bangsa dan Dasar Negaa Republik Indonesia yang kokoh tidak akan
menutup diri dari perkembangan internasional. Membuka diri terhadap globalisasi
bukan berarti kita melepaskan jati diri sebagai bangsa yang memiliki nilai-nilai
luhur pancasila yang diwariskan oleh nenek moyang kita. Serap nilai-nilai baru
untuk memperkaya hasanah ilmu pengetahuan dan wawasan kita, tapi jangan sampai
mengganti 100% nilai-nilai luhur pancasila (moral pancasila) yang dijiwai oleh
nilai-nilai luhur agama dengan nilai-nilai baru dari bangsa lain. Bangsa yang
memiliki kepribadian kuat berjati diri dan kepribadian pancasila mampu
mempertahakan jati dirinya. Jati diri dan kepribadian bangsa, kepribadian
masyarakat dibangun dari jati diri dan keribadian keluarga, jati diri dan
kepribadian keluarga dibangun dari jati diri dan kepribadian individu. Oleh
karena itu mulailah membangun jati diri dan kepribadian dari diri sendiri, dan
terus menenrus membiasakan membangun jati diri yang kuat dan kepribadian yang kuat.
Dalam membangun jati diri dan kepribadian terpuji biasakan yang benar, bukan membenarkan yang biasa.
Dalam era globalisasi
dan kondisi bangsa skarang ini ada suatu nilai perekat persatuan dan kesatuan
demi utuhnya NKRI yaitu nilai jati diri bangsa yaitu nilai-nilai pancasila.
Pancasila yang sudah terbukti kesaktiannya yang mampu mengatasi masalah-masalah
bangsa dalam situasi penting dan genting yang tercatat dalam sejarah seperti
pemberontakan-pemberontakan dari berbagai elemen bangsa yang pada akhirnya
dengan semangat nasionalisme yang melahirkan para pejuang (patriotisme) yang
berpegang teguh pada nilai-nilai pancasila yang luhur semuanya dapat diatasi.
Walauu negara kita didiami oleh berbagai etnis, agama, budaya , adat-istiadat,
kerarifan lokal yang berbeda, namun perbedaan adalah suatu ke-bhinnekaan,
ke-pluralistikan, kemajemukan tetap dalam satu yaitu bertumpah darah yang satu
tanah air indonesia, berbangsa satu bangsa indonesia dan menjunjung tinggi
bahasa persatuan yaitu bahasa indonesia. Inilah sumpah pemuda yan diprokamirkan
oleh pemuda-pemuda pejuang bangsa, nasionalisme, dan patriotism pada tangga 28
oktober 1928.
Dalam mengelola
kemajemukkan masyarakat, indonesia juga memiliki pengalaman sejarah yang cukup
panjang bila dibandingkan dengan bangsa-bangsa lain. Negara barat relatif masih
baru mewacanakan hal ini, sebelum kenal
apa yang disebut dengan Multikulturalisme
di barat, jauh sebelum itu atau berabad-abad yang lalu bangsa indonesia sudah
memiliki falsafah “Bhinneka tunggal ika” yang ditulis oleh mpu tantular pada abad ke
14 di masa kerajaan majapahit. Dalam kitab tersebut empu tantular menulis “Rwaneka dhatu winuwus buddha
wisma,bhinneka rakwa ring apan kena parwanosen, mangka ng jinatwa kalawan
swatatwa tunggal, bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrwa”. dan founding father (Pendiri bangsa)
indonesia yang sebagian besar beragama islam cukup toleran untuk menerima
warisan mpu tantular yang seorang sastrawan buddha. Sikap toleran ini merupakan
watak dasar suku-suku bangsa di indonesia yang telah mengenal beragam agama,
berlapis-lapis kepercayaan dan tradisi, jauh sebelum islam datang ke nusantara
dan perbedaan tersebut dijadikan para leluhir sebagai modal untuk membangun
bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang besar. Sejarah juga telah membuktikan
bahwa semakin banyak suatu bangsa menerima warisan kemajemukkan, maka semakin
toleran bagsa tersebut terhadap kehadiran “yang lain”.
Globalisasi tidak mungkin dihindari dan
mustahil bangsa indonesia dapat lari dari pengaruh globalisasi, Globalisasi
tidak perlu ditakutkan , globalisasi tidak perlu disalahkan, sikapi globalisasi
dengan positive thinking (berpikir
positif) , tidak menangis dan tidak menyerah pada globalisasi, tegar dan segar,
berbuat dan terus berbuat, kreatif,
inovatif dan produktif untuk negeri ini yang pernah disegani oleh bangsa-bangsa
dunia supaya mampu bersaing dan bersanding dengan bangsa bangsa lain. Bangsa
indonesia memiliki jati diri yang kuat yaitu pancasila sakti yang mengandung
nilai-nilai moral leluhur dan tetap sakti tak terkalahkan oleh ideologi lain.
Globalisasi yang bercirikan persaingan/kompetitif dan keunggulan dengan
memiliki keunggulan manusia menjadi lebih maju. Informasi menjadi bermakna
kalau dikemas oleh lembaga atau orang-orang berkualitas dan lembaga itu berguna
bagi umat atau masyarakat luas kalau dikerumuni oleh informasi yang
berkualitas. Televisi sebagai media komunikasi informasi hendaknya mampu
menyampaikan informasi yang benar, misalnya
1. Informasi
yang disampaikan sesuai dengan kenyataan/realita
2. Informasi
yang disampaikan sesuai dengan kaedah ajaran yang benar
3. Informasi
yang disampaikan mengandung dam mengajarkan nilai-nilai luhur untuk kehidupan
yang lebih bermutu
Bukan hanya Tugas pemuka agama atau
organisasi-organisasi tertentu, tapi itu juga tugas kita semua untuk turun
tangan mempersiapkan informasi yang
berkualitas pada masa yang akan datang apabila ingin menjadi bangsa yang maju
yang berlandaskan pada moral bangsa yaitu pancasila. Bagaima cara mengemas
informasi, inilah masalah yang sedang dihadapi dalam era globalisasi sekarang
ini.
Media
massa harus bisa menjernihkan pandangan hidup (ideologi) bangsa indonesia,
punya tanggung jawab terhadap perkembangan moral generasi yang akan datang.
Generasi sekarang baru merasa puas kalau memberi pancing kepada generasi yang
akan datang, bukan memberi ikannya atau generasi sekarang baru bisa menyatakan
puas kalau menanam pohon yang berbuah dari pada memakan buah dari pohon
peninggalan nenek moyangnya. Persoalannya sekarang bagaimana menanam
pohon-pohon itu, di mana lahannya, dari mana bibit unggulnya, dan dari mana
biayanya. Dalam di bawah bendera revolusi
pak soekarno berpesan bahwa “ walaupun indonesia sudah merdeka tetap
harus waspada, waspada, dan terus waspada terutama dala era global, era
persaingan bebas yang dapat memindahkan/mentransfer nilai-nilai nasionalism,
patriotism, kecintaan terhadap tanah air dan kecintaan terhadap bangsa ke dalam
arus globalisasi.
Perbedaan
manusia dan makhluk-makhluk allah lainnya seperti malaikat, iblis dan syaitan
adalah terletak pada kekhalifahan manusia. Khilafah di bumi adalah anugerah
tertinggi Allah Swt kepada manusia. Anugerah sebagai khalifah ini pula yang
menimbulkan kecemburuan syaitan kepada manusia, dimana Allah memerintahkan
syaitan untuk tunduk kepada manusia. Syaitan membangkang perintah Allah Swt,
oleh karena itu dalam menjalankan kekhalifahannya manusia di mana saja, kapan
saja dan siapa saja untuk berbuat kebajikan selalu mendapatkan perlawanan dari
syaitan. Reaita perlawanan itu tampak pada perilaku manusia yang jelek-jelek
dan yang tidak berbudi, lebih-lebih lagi dalam era globalisasi yang dahsyat
yang penuh dengan informasi-informasi yang menggoda yang menjanjikan kesenangan
terutama oleh syaitan. Perilaku yang jelek-jelek, jahat, yang membuat orang
lain susah, tidak berbudi adalah perilaku dan ucapan yang bertentangan dengan
nilai-nilai moral pancasila.
Seyogyanya
disadari bahwa informasi merupakan sesuatu yang mahal. Barang siapa yang menguasai
informasi maka ia menguasai dunia, oleh karena itu manusia sejatinya mengemas
informasi supaya berkualitas. Lebih-lebih jangan sampai informasi itu
menjerumuskan umat manusia untuk menjadi pengikut syaitan. Apapun derajat
manusia, kluster manusia, apapun pendidikan manusia, kaya atau miskin tidak
luput dari godaan syaitan supaya menjadi tim suksesnya syaitan dan pasukannya
memasuki neraka, kecuali orang-orang yang mendapat perlindungan dari Allah Swt.
Salah satu di antaranya adalah orang-orang yang memiliki kepribadian yang
dijiwai oleh nilai-nilai luhur agama yang merupakan jiwa (roh) dari nilai-nilai
pancasila. Sekarang ini, apalagi dalam era globalisasi yang sudah
memperlihatkan tanda-tanda pengikisan ahlak mulia, moral, karakter yang sangat
penting dibangun adalah kepribadian bangsa yang memiliki akhlak mulia,
bermoral, dan berkarakter. Apalagi tidak dibangun, maka bangsa ini akan menerus
berada dalam kondisi sekarang ini. Oleh kareena itu, setiap insan indonesia
yang menyadari kondisi bangsa ini, hendaklah berbuat sesuatu yang bermanfaat
bagi bangsa dan negara, bagi keselamatan umat manusia pada umumnya, tidak ada
istilah terlambat untuk mencintai bangsa dan negara ini, banyak cara untuk
mencintai bangsa, banyak cara untuk berbakti kepada bangsa dan negara ini,
lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali. marilah, jangan hanya diam,
jangan hanya berpangku tangan tp ayo turun tangan bersama-sama kita benahi, kita berbuat untuk
indonesia yang lebih baik lagi.
Camkanlah
kata-kata mutiara ini :
“
jangan tanya apa yang diberikan oleh negara kepadamu, tetapi tanyalah apa yang
dapat kamu berikan kepada negaramu” (John F. Kannedy).
“bahwa
bangsa-bangsa yang maju dan jaya tidak semata-mata disebabkan oleh kompetensi,
teknologi canggih ataupun kekayaan alamnya, tetapi yang utama dan terutama
karena dorongan semangat dan karakternya, contohnya kita bisa lihat apa yang
terjadi dengan bangsa jepang, china, dan korea. Bahkan kini vietnam , bangsa
yang lebih miskin dan terpuruk dari indonesia itu sudah siap menjadi negara
yang maju” – (H. Soemarsono soeadarsono, dalam jurnal negarawan, 2011:59).
Globalisasi
telah menciptakan sebuah perubahan besar dalam semua lapangan kehidupan baik
kehidupan ideologi, politik, ekonomi, sosial-budaya, pertahanan, kependudukan,
geografi, dan sumber kekayaan alam indonesia. Globalisasi yang bercirikan
persaingan bebas dan keunggulan merubah pola pikir masyarakat terutama
masyarakat indonesia. Bagaimana mensejahterakan rakyat melalui sumber kekayaan
alam indonesia yang melimpah ruah jangan sampai terjadi ibarat kata pepatah “seperti ayam mati kelaparan di lumbung
padi” atau “ ibarat itik mati
kehausan berenang di air”. Tidak sepantasnya terjadi banyak rakyat miskin
di tengah-tengah kekayaan alam negara yang berlimpah ruah. Rakyat miskin
mengais sampah, menjadi kuli untuk sesuap nasi pagi dan sore semetara
kemewahan, kesenangan, kekayaan yang dipamerkan disekeliling mereka. rakyat
tersayat hatinya, pedih seperti teriris sembilu, pasrah dengan kondisi apa adanya.
Tidak
ada kata terlambat untuk mengangkat nasib rakyat, kesejahteraan rakyat. Kita
harus belajar dari negara-negara yang tidak mempunyai sumber kekayaan alam tapi
rakyatnya sejahtera seperti korea, jepang, singapura yang maju dan sejahtera.
Apa kuncinya ?
1. Semangat
kebangsaan (nasionalisme) yang melahirkan cinta tanah airdan bangsa yang
mengutamakan kepentingan bangsa dan negara ukan kepentingan pribadi, golongan,
kelompok dan partai.
2. Leadership
yang kuat untuk maju dan visinya untuk membangun kesejahteraan rakyat.
3. Masyarakat
mempunyai kemauan yang kuat (optimisme) untuk
maju dan sejahtera yang didorong oleh kepemimpinan yang pro rakyat.
4. Sumber kekayaan alam yang berlimpah-limpah
yang dimanfaatkan sepenuhnya untuk membangun kesejahteraan rakyat.
5. Kemandirian,
percaya kepada kemampuan bangsa sendiri yang didukung oleh sumber kekayaan alam
dan jumlah penduduk yang besar dan berkualitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar